Ketika harus memilih jalan hidup, tidak mudah memang bila kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang ada. Ada rasa keraguan tapi ada rasa berontak dalam diri. Sesak di dada begitu memburu hingga aku tak kuasa lagi untuk berteriak. Tapi, aku masih mencoba untuk bertahan. Entah bertahan untuk apa dan siapa. Aku hanya berusaha untuk meyakini dan menjalani ketetapan-Nya.
Air mata telah sering mengalir deras dari kedua mata yang lelah. Malah hati ini cukup lama menahan beban. Aku tetap percaya bahwa Allah tak pernah memberi ujian kepada hamba-hamba-Nya di luar kesanggupan mereka. Doa terus kupanjatkan. Sujud-sujud panjang selalu kulakukan. Tak jemu aku memohon kepada-Nya.
Jawaban-Nya terwujud dalam bentuk kasih sayang yang selalu menemaniku dan melipur kesedihanku: Keluarga, sahabat, teman-teman lama, teman-teman baru, bahkan sosok ibu 'baru' dengan kelembutan dan ketulusannya berhasil mengusap kegalauanku. Mereka masih menyediakan ruang untukku di relung hati yang dalam. Mereka menyisihkan diri mereka untuk mendengar keluh kesahku. Tak ada rasa berat untuk itu.
Waktu luang dan kesediaan hati mereka untukku adalah berkah tak terhitung besarnya. Meski kadang ada rasa khawatir dalam diri, apakah aku telah membebani mereka dengan cerita-ceritaku selama ini. Mereka menjawab dengan sungguh-sungguh, "Tidak." Lega rasanya karena itu adalah jawaban tulus yang tergambar dari keteduhan wajah dan kehalusan suara mereka. Aku memang tidak dapat membaca hati orang. Tapi, aku tahu mereka benar-benar ada untukku. Allah telah mengirimmu untukku.
Seorang teman dengan bijak berkata, "Elo juga berhak dapat yang terbaik untuk diri lo, ta." Ya,..selama ini aku telah menzalimi diriku sendiri. Ketika aku ragu untuk memutuskan sesuatu yang penting untuk hidupku, ketika aku tidak dapat menyuarakan isi hati, dan ketika aku hanya berdiam diri tak berdaya.
Ya...aku membodohi diriku sendiri bila terus bersikap seperti ini. Secara fisik aku (alhamdulillah) masih dalam kedaan sehat tetapi secara mental aku teraniaya. Mengapa aku harus takut untuk melangkah dan mengambil keputusan. Ada Allah yang pasti akan selalu melindungiku. Terlebih ini hanya masalah pekerjaan. Pekerjaan hanyalah masalah kecil bagi-Nya.
Cukup sudah perjalananku. Aku harus mengambil arah lain. Aku tidak yakin dengan jalan yang sedang kususuri ini. "Buang deh perasaan gak enak lo jauh-jauh. Sekali-kali egois gak apa-apa, ta, karena elo berhak dapetin yang terbaik dan elo gak bisa nyenengin semua pihak kan." ujar teman bijakku lagi.
Iya..aku hanya mengharap ridha Allah. Aku tidak ingin kalau aku tetap berada di sini, aku tidak mendapat ridha-Nya. Aku pasti menjadi orang yang merugi...
Ketika harus memilih, aku harus memilih yang terbaik untuk hidupku....
Ketika harus memilih, aku harus berani untuk memilih...
Cempaka Putih, Jumat 23 Februari 2007.